Motivasi

Jangan Tergesa-gesa

Posted on

SandglassApa yang pertama kita lakukan saat bangun tidur pada pagi hari? Menarik tirai jendela, memeluk pasangan kita atau bantal guling? Turun dari tempat tidur dan melakukan push-up sepuluh kali untuk melancarkan peredaran darah kita? Tentu saja tidak. Hal pertama yang kita lakukan, seperti yang dilakukan oleh hampir setiap orang, adalah melihat jam. Dari tempatnya di atas sebuah meja kecil, disisi tempat tidur kita jam beker mengendalikan tindakan kita. Dia tidak hanya memberi tahu dimana posisi waktu kita di hadapan sisa waktu hari itu, akan tetapi juga bagaimana kita menanggapinya. Jika saya lihat waktu masih pagi sekali, saya kembali memejamkan mata dan berusaha tidur lagi. Jika sudah terlambat, saya segera meloncat dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Sesudah Kesusahan Pasti Ada Kebahagiaan

Posted on

“Maka sesungguhnya bersama kepedihan itu ada kebahagiaan. Dan sesungguhnya bersama kepedihan itu ada kebahagiaan.” (Qs. Al-Insyirâh [94]:5-6)

 

Terhadap dua ayat ini, para mufasir sepakat bahwa ada makna istimewa yang menggembirakan kita semua. Yaitu, Allah berjanji bahwa setiap satu kesusahan atau kepedihan akan disediakan dua kebahagiaan. Luar biasa, kesusahan merupakan pintu masuk menuju dua kemudahan, dua kebahagiaan.

Baca entri selengkapnya »

Janganlah Kamu Bersedih Karena Allah Ada Disamping Kita

Posted on Updated on

“… janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Allah bersama kita…” (Qs. At-Taubah [9]:40)

Bila kita dalam rasa susah, terpuruk, terbuang, ditertawakan banyak orang, dihina, tidak diperhitungkan, dan seabreg masalah lain, saat itu kita merasa terasing sendiri. Dunia terasa menyempit, langit seperti hendak runtuh menimpa kepala, rumput pun menertawakan kita, pokoknya kita seperti badut yang gagal melakukan akrobat. Tapi dengarlah atau bacalah surat ini, “… sesungguhnya Allah bersama kita…” (Qs. At-Taubah [9]:40)

Baca entri selengkapnya »

Bahaya Kesedihan

Posted on Updated on

Kenapa tidak boleh bersedih? Bukankah bersedih itu manusiawi?

Bersedih karena materi akan membuat kita mengalami depresi. Robert E. Lane dalam The Loss of Happiness in Market Democracies menyatakan, “… untuk dapat dikatakan depresi, anda harus memiliki paling tidak 4 gejala dibawah ini yang berlangsung hampir setiap hari, selama paling tidak dua minggu:

 

  1. Selera makan hilang atau kehilangan berat yang sangat berarti (dalam keadaan tidak diet);
  2. Susah tidur (insomnia) dan hipertensi;
  3. Gerakan yang melambat (agitasi psikomotor);
  4. Kehilangan minat atau rasa senang pada kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan;
  5. Kehilangan tenaga, kelelahan;
  6. Merasa tidak berharga, menyalahkan diri, atau merasa bersalah yang berlebihan;
  7. Menggerutu atau menunjukkan hilangnya kemampuan berpikir sehingga sulit mengambil simpulan;
  8. Selalu muncul pikiran tentang kematian, bunuh diri, ingin segera mati.

Bersedih merupakan hal yang dilarang Allah melalui firman,

“Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati” (Qs. Az-Zukhruf [43]:68);

“Dan janganlah apa yang menimpa mereka membuat kamu bersedih hati.” (Qs. Al-Hijr [15]:88)

Daniel Goleman menulis, “Pada sebagian negara kaya kemungkinan orang yang lahir pada 1955 untuk menderita depresi besar—bukan hanya kesedihan, tetapi kesepian yang melumpuhkan, kehilangan semangat, kehilangan harga diri, ditambah perasaan tidak berdaya yang luar biasa—pada satu titik kehidupan lebih dari tiga kali lebih besar daripada generasi kakek mereka.” Dengan merujuk data yang sama, Martin Selibman, tokoh psikologi positif, berkomentar, “Kita sekarang ini berada di tengah-tengah wabah depresi, wabah dengan akibat bunuh diri yang menyebabkan kematian sama banyaknya dengan kematian karena AIDS dan lebih menyebar. Depresi yang parah sepuluh kali lebih banyak terjadi sekarang ini daripada 50 tahun yang lalu. Depresi menyerang perempuan dua kali lebih sering dari lelaki dan sekarang menyerang 10 tahun lebih muda daripada generasi sebelumnya.”

 

Sikap sedih akan memadamkan bara harapan, mematikan ruh cita-cita, dan membekukan semangat jiwa. Kesedihan tak ubahnya seperti demam yang melumpuhkan kehidupan umat Islam. Kesedihan bahkan seperti barikade yang tidak mudah untuk dilalui dan menghalangi setiap pergerakan menuju kebahagiaan. Bahkan kesedihan merupakan situasi yang paling disukai setan karena melalui kesedihan, setan menurunkan keyakinan hati manusia akan keadilan dan kasih sayang Allah.

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia (yang dilakukan selain orang beriman) adalah dari setan, untuk menimbulkan kedukaan terhadap orang-orang yang beriman…” (Qs. Al-Mujadilah [58]:10)

Seorang muslim diperintahkan untuk mengusir kesedihan, tidak boleh menyerah, serta harus membuang jauh-jauh, menolak, melawan dan mengalahkan kesedihan. Bahkan Nabi sendiri pernah memohon agar dihindarkan kesedihan melalui doanya, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kecemasan dan kesedihan.”

Situasi tanpa kesedihan adalah gambaran surga, kita akan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah mengusir kesedihan dari diri kami.” (Qs. Fathir [35]:34)

Untuk itu, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mendatangkan kebahagiaan dan menciptakan kehidupan yang melapangkan dada. Kita harus memohon kehidupan yang baik, penghidupan yang memuaskan, pikiran yang jernih, dan kelapangan dada. Karena itu, seorang ulama pernah menyatakan, “Sesungguhnya di dunia ini terdapat surga. Barang siapa yang belum memasukinya, ia belum dapat memasuki surga di akhirat.”

Allâhumma innî a’ûdzubika minal hammi wal zubni, wal ‘ajzi wal kasali, wal bukhli wal jubni, wadh dhola’id baini wa gholâbatir rijâl (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, kekikiran, berhati pengecut, terbelit utang, dan tertindas oleh yang lain)

____________________

Sumber: Qamaruzzaman Awwab, La Tahzan for Teens; Menjadi Remaja Bebas Stres ‘N Selalu Happy.